Ini Message yang saya kirim ke Traveler Merah Putih di Facebook.
Habis saya males sih pada kaga respon gitu, cuma ngeongo with no action at all, hare gene. . . Duh, saya juga lagi males posting panjang-panjang. Just enjoy dah. . (mending ada yang baca, hehehe).
Message ini saya alamatkan buat setiap orang. Tujuan saya bikin grup ini bukan cuma buat keren-kerenan doang, tapi yang paling penting adalah untuk berbagi pengalaman traveling. Andakan tersebar di berbagai penjuru Indonesia, ada yang di Jakarta, Bekasi , Tanggerang, ampe Riau juga ada. Nah saya rasa temapt yang berbeda-beda itu cukup bagi kita untuk fun fun dengan sharing cerita asik.
Untuk standar traveling itu sendiri, sebetulnya itu hanya masalah Anda melihat dengan jeli. Kalo kita ngecek di Oxford, Travel itu artinya move from a place to another one alias pindah dari satu tempat ke tempat lain. Artinya, kalo Anda bingung mau cerita apa, Anda bisa kok cerita tentang perjalanan Anda menuju kamar mandi pas malam hari. Itu kan traveling juga. Syukur-syukur Anda yang jauh di daerah, tulisan Anda bisa dikasih judul "Riau Toilet Traveling" misalnya. Saya tidak bermaksud menyinggung tapi tolong Anda ramaikan grup ini karena saya pun jarang OL.
PLIS
Selasa, Januari 5
Rabu, Desember 2
Museum freak
Kalau saya traveling, belum pernah saya jalan rame dalam artian rame banget.
Paling banter, saya jalan bareng enam orang waktu jalan ke museum layangan. Padahal hampir semua teman selalu saya undang , tapi yang attend paling cuma beberapa. alasannya? Ketika saya tanya kata mereka karena saya jalnnya ke museum mulu.
Saya akui, memang traveling saya selama ini selalu ke museum2 ataupun tempat sejenis. Tidak aneh kalau banyak orang yang enggan, apalagi persepsi orang tentang museum terlajur kadung buruk. Musum itu sama seklai ga asik, temapy yang ngebosenin dan engga gaul. Tempat yang cuma pantes dikunjungin bocah SD waktu study tour. Tak ayal museum pun dipikir hanya sebagai tempat majang barang2 kuno, sehingga selalu supersepi. Ujung-ujungnya - karena sepi dan berkesan kuno - museum jadi tempat yang pas disebut angker. Ingat saja, waktu jamnnya 'Dunia Lain' dan 'Ekspedisi Alam Gaib' separuh kunjungan mereka pasti museum.
Saya tidak menyangkal semua pernyataan di atas kecuali satu, bahwa museum sama sekali ga asik dan ngebosenin. Itu adalah statement yang sanagat salah, mungkin mereka saja yang tidak tahu asiknya museum. Nah, kalo saya sendiri punya beberapa alasan menjadikan museum sebagai tujuan utama traveling.
Pertama karena museum itu tempat belajar instan. Saya sebagai seorang traveler sudah bertekad untuk selalu jalan2 yang education oriented. Mengunjungi museum itu sama dengan membaca banyak buku dalam satu watu. Kita jadi tahu sejarah, kultur, dan budaya setempat hanya dengan melengak-lengok saja. Asik kan?
Kedua karena museum itu murah. "Museum itu murah" juga dapat diartikan "Saya Kere". Mau jalan asik daripada jauh2 ataupun ke tempat mahal seperti Ancol padahal "museum itu murah", ya saya pilih museum. Masuk akal kan?
Ketiga karena "museum itu murah", saya pun saat ini jalan hanya ke jakarta dan sekitarnya saja kok. Sejak menasbihkan diori sebagai traveler merah putih, berhubung belum punya duit buat melancong jauh-jauh, saya bertekad untuk menguasai Jakarta dulu. Apalagi sekarang udah ada busway, kemana-mana jadi tambah gampoang dan sesuai kondisi kantong saya.
Karena saya pun hanya tahu sedikit, tiap mau traveling saya sempatkan waktu untuk browsing dulu. Ternyata museum di Indonesia banyak banget! Sampai saat ini saya baru m,engunjungi belasan, sisanya ya ada setengah dari totalnya. Wong di Taman Mini saja ada lebih dari 15, belum yang di temapt-tempat lain.
Semakin banyak museum yang saya kunjungi, semakin banyak saya tahu ini dan itu. Dan semakin museum yang saya datangi, semakin besar pula rasa prihatin saya. Pikiran yang selalu timbul, beginikah penghargaan kita terhadap sejarah dan warisan budaya nusantara? Sangat jarang saya bertemu pengunjung lain ketika ke museum, malah saya lebih sering ketemu om-om dan tante-tante bule eropah. Tak ane sebenarnya kalau budaya kita dicomotin negara lain, rakyatnya pun tak pernah concern. PAdahal yang paling saya suka dari ritual mengunjungi museum adalah perasaan di dalam hati:
semakin banyak museum yang saya kunjungi, semakin besar pula rasa cinta saya kepada Indonesia"
Paling banter, saya jalan bareng enam orang waktu jalan ke museum layangan. Padahal hampir semua teman selalu saya undang , tapi yang attend paling cuma beberapa. alasannya? Ketika saya tanya kata mereka karena saya jalnnya ke museum mulu.
Saya akui, memang traveling saya selama ini selalu ke museum2 ataupun tempat sejenis. Tidak aneh kalau banyak orang yang enggan, apalagi persepsi orang tentang museum terlajur kadung buruk. Musum itu sama seklai ga asik, temapy yang ngebosenin dan engga gaul. Tempat yang cuma pantes dikunjungin bocah SD waktu study tour. Tak ayal museum pun dipikir hanya sebagai tempat majang barang2 kuno, sehingga selalu supersepi. Ujung-ujungnya - karena sepi dan berkesan kuno - museum jadi tempat yang pas disebut angker. Ingat saja, waktu jamnnya 'Dunia Lain' dan 'Ekspedisi Alam Gaib' separuh kunjungan mereka pasti museum.
Saya tidak menyangkal semua pernyataan di atas kecuali satu, bahwa museum sama sekali ga asik dan ngebosenin. Itu adalah statement yang sanagat salah, mungkin mereka saja yang tidak tahu asiknya museum. Nah, kalo saya sendiri punya beberapa alasan menjadikan museum sebagai tujuan utama traveling.
Pertama karena museum itu tempat belajar instan. Saya sebagai seorang traveler sudah bertekad untuk selalu jalan2 yang education oriented. Mengunjungi museum itu sama dengan membaca banyak buku dalam satu watu. Kita jadi tahu sejarah, kultur, dan budaya setempat hanya dengan melengak-lengok saja. Asik kan?
Kedua karena museum itu murah. "Museum itu murah" juga dapat diartikan "Saya Kere". Mau jalan asik daripada jauh2 ataupun ke tempat mahal seperti Ancol padahal "museum itu murah", ya saya pilih museum. Masuk akal kan?
Ketiga karena "museum itu murah", saya pun saat ini jalan hanya ke jakarta dan sekitarnya saja kok. Sejak menasbihkan diori sebagai traveler merah putih, berhubung belum punya duit buat melancong jauh-jauh, saya bertekad untuk menguasai Jakarta dulu. Apalagi sekarang udah ada busway, kemana-mana jadi tambah gampoang dan sesuai kondisi kantong saya.
Karena saya pun hanya tahu sedikit, tiap mau traveling saya sempatkan waktu untuk browsing dulu. Ternyata museum di Indonesia banyak banget! Sampai saat ini saya baru m,engunjungi belasan, sisanya ya ada setengah dari totalnya. Wong di Taman Mini saja ada lebih dari 15, belum yang di temapt-tempat lain.
Semakin banyak museum yang saya kunjungi, semakin banyak saya tahu ini dan itu. Dan semakin museum yang saya datangi, semakin besar pula rasa prihatin saya. Pikiran yang selalu timbul, beginikah penghargaan kita terhadap sejarah dan warisan budaya nusantara? Sangat jarang saya bertemu pengunjung lain ketika ke museum, malah saya lebih sering ketemu om-om dan tante-tante bule eropah. Tak ane sebenarnya kalau budaya kita dicomotin negara lain, rakyatnya pun tak pernah concern. PAdahal yang paling saya suka dari ritual mengunjungi museum adalah perasaan di dalam hati:
semakin banyak museum yang saya kunjungi, semakin besar pula rasa cinta saya kepada Indonesia"
Sabtu, Oktober 3
Kemenangan Mu'takifin
Nyaris tujuh belas tahun hidup, sembilan tahun diantaranya dalam keadaan sadar arti shaum, baru kali ini saya bisa menggenapi arti "Hari Kemenangan".
Baru kali inilah timbul perasaan menang yang sebenar-benarnya. Karena tahun ini berbeda, saya beri'tikaf sepuluh hari penuh sampai hari 'Ied. Ada perasaan kemenangan ketika keluar dari masjid pada malam dimana takbir mulai bersahut-sahutan di seluruh dunia. Kemenangan itu timbul karena kami - Mu'takifin, orang2 yang beri'tikaf - telah menang atas hawa nafsu kami. Kami berhasil menang atas keinginan untuk sekadar pulang, untuk sekadar bertemu keluarga, untuk sekadar reunian bareng teman2. Kamilah orang2 terpilih, yang tersisa untuk melanjutkan i'tikaf secara sempurna.
Alhamdulilah, amat sangat banyak sekali banget berkah yang didapat.
1. Ilmu2 yang tidak akan pernah didapat diluar i'tikaf. Ilmu tentang Firoq, ke-absolute-an Tuhan, dan terutama ukhuwwah islamiyyah yang terasa betul ketika bersama mu'takifin lainnya.
2. Dapet gamis asli keren dari Qatar. Gamis bagus ini banyak banget jumlahnya, ba'da ashar diobral di mesjid layaknya gorengan Muhajir yang jadi gope dua. Orang2, mulai dari ustadz, karyawan, ampe kita2 ngambil gamis, cobain, kaga cocok, buang, ambil lagi yang lain. Wah, seru banget! Selain itu dapet makan terenak, pake kambing, semeja ama Mudir. Dan tak lupa, TeHaEr yang langsung dari tangan Mudir !
Sebenarnya sih, bukan materi yang berasa asik. Tapi justru momen2 di saat mendapatkannya, berasa berkah langsung yang dibalas Allah atas pengorbanan kami beri'tikaf sempurna sepuluh hari.
3. Merasakan kemenangan hari Iedul Fitri yang sangat mengharukan. Pas keluar dari masjid, berasa mau nangis.
Dan masih banyak berkah lainnya.
Mudah2an Allah membalas semua pengorbanan dan apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan, dan mudah2an kita menjadi orang yang lain daripada sebelum Ramadhan. Semoga Allah menjadikan kita diantara orang2 yang sedang beribadah ketika Lailatul Qadar diturunkan, semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan disaat kita sudah menjadi mahasiswa tahun depan.
Semoga kita mati dalam keadaan husnul khatimah, karena kita tak tahu kapan dan dimana kita akan mati.
Baru kali inilah timbul perasaan menang yang sebenar-benarnya. Karena tahun ini berbeda, saya beri'tikaf sepuluh hari penuh sampai hari 'Ied. Ada perasaan kemenangan ketika keluar dari masjid pada malam dimana takbir mulai bersahut-sahutan di seluruh dunia. Kemenangan itu timbul karena kami - Mu'takifin, orang2 yang beri'tikaf - telah menang atas hawa nafsu kami. Kami berhasil menang atas keinginan untuk sekadar pulang, untuk sekadar bertemu keluarga, untuk sekadar reunian bareng teman2. Kamilah orang2 terpilih, yang tersisa untuk melanjutkan i'tikaf secara sempurna.
Alhamdulilah, amat sangat banyak sekali banget berkah yang didapat.
1. Ilmu2 yang tidak akan pernah didapat diluar i'tikaf. Ilmu tentang Firoq, ke-absolute-an Tuhan, dan terutama ukhuwwah islamiyyah yang terasa betul ketika bersama mu'takifin lainnya.
2. Dapet gamis asli keren dari Qatar. Gamis bagus ini banyak banget jumlahnya, ba'da ashar diobral di mesjid layaknya gorengan Muhajir yang jadi gope dua. Orang2, mulai dari ustadz, karyawan, ampe kita2 ngambil gamis, cobain, kaga cocok, buang, ambil lagi yang lain. Wah, seru banget! Selain itu dapet makan terenak, pake kambing, semeja ama Mudir. Dan tak lupa, TeHaEr yang langsung dari tangan Mudir !
Sebenarnya sih, bukan materi yang berasa asik. Tapi justru momen2 di saat mendapatkannya, berasa berkah langsung yang dibalas Allah atas pengorbanan kami beri'tikaf sempurna sepuluh hari.
3. Merasakan kemenangan hari Iedul Fitri yang sangat mengharukan. Pas keluar dari masjid, berasa mau nangis.
Dan masih banyak berkah lainnya.
Mudah2an Allah membalas semua pengorbanan dan apa yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan, dan mudah2an kita menjadi orang yang lain daripada sebelum Ramadhan. Semoga Allah menjadikan kita diantara orang2 yang sedang beribadah ketika Lailatul Qadar diturunkan, semoga Allah mempertemukan kita kembali dengan Ramadhan disaat kita sudah menjadi mahasiswa tahun depan.
Semoga kita mati dalam keadaan husnul khatimah, karena kita tak tahu kapan dan dimana kita akan mati.
Jumat, Oktober 2
Traveler Merah Putih
Traveler Merah-Putih adalah grup orang yang demen ngalor ngidul di facebook.
Bagaimana saya bisa mendapatkan nama Traveler Merah Putih? Ceritanya sih biasa saja. Saya dan dua teman travelling saya-yang tiap liburan selalu sibuk ngalor ngidul sana sini-adalah penggemar berat The Naked Traveler. Itu loh, si Mbak Trinity yang gendut tapi udah jalan2 mulu keliling dunia. Wew, oleh sebab itulah, kami selalu merasa ada yang kurang kalo lagi jalan, yaitu masalah nama. Kalau Jeplak bener menyebut diri sendiri Naked Traveler, walaupun fans, rasanya terlalu vulgar.
Untuk ukuran anak SMA sih, kita udah termasuk keren. Selalu bawa backpack, camdig, hapal rute bis dan kereta(Jabotabek), dan nyari panganan ala gembel adalah ciri khas kami. Lagian saya sebagai bos geng tengik ini selalu menentukan tujuan yang absolutely education oriented. Sebelum jalan saya pasti browsing lihat2 website komunitas tukang jalan, tentukan target, estimasi biaya, baru cabut pergi.
Nah, sudah sekeren itu, belum punya nama. Maka saya pilih Merah-Putih. alasannya sederhana, karena kesannya macho, keren, patriotik, dan berpendidikan. Apalagi Merah Putih sendiri punya makna berani dan suci, jadi simbol yang mantab sekali buat seorang traveler. Begitu dapet nama ini, saya titahkan kepada Bryan dan Ongki untuk menyematkan merah putih di backpack mereka, sebagai ciri khas kami.
Jadi Anda yang sudah tergabung dalam grup ini saya anggap Anda sebagai Traveler Merah-Putih juga. Otomatis, Anda juga sangat dianjurkan (HARUS) menyematkan merah putih di backpack Anda. Jadi di dunia nyata, kita bisa saling kenal dengan hanya melihat merah putih itu.
"Hoi Traveler Merah-Putih juga ya?"
"Oh, kamu kan Iqbal yang ganteng itu, kan?"
Nah, seperti itulah ilustrasinya di dunia nyata. Anda tidak perlu taku merah-putih di backpack akan kelihatan norak. Saya jamin, keren dan sangat mantab. Lagipula kenapa harus malu berbangga diri dengan identitas negeri sendiri?
Sematkan Merah Putih-mu !!
NB: Merah-Putih yang disematkan bebas sesuai selera Anda, disarankan berupa bendera kecil dari kain yang dijahit.
Bagaimana saya bisa mendapatkan nama Traveler Merah Putih? Ceritanya sih biasa saja. Saya dan dua teman travelling saya-yang tiap liburan selalu sibuk ngalor ngidul sana sini-adalah penggemar berat The Naked Traveler. Itu loh, si Mbak Trinity yang gendut tapi udah jalan2 mulu keliling dunia. Wew, oleh sebab itulah, kami selalu merasa ada yang kurang kalo lagi jalan, yaitu masalah nama. Kalau Jeplak bener menyebut diri sendiri Naked Traveler, walaupun fans, rasanya terlalu vulgar.
Untuk ukuran anak SMA sih, kita udah termasuk keren. Selalu bawa backpack, camdig, hapal rute bis dan kereta(Jabotabek), dan nyari panganan ala gembel adalah ciri khas kami. Lagian saya sebagai bos geng tengik ini selalu menentukan tujuan yang absolutely education oriented. Sebelum jalan saya pasti browsing lihat2 website komunitas tukang jalan, tentukan target, estimasi biaya, baru cabut pergi.
Nah, sudah sekeren itu, belum punya nama. Maka saya pilih Merah-Putih. alasannya sederhana, karena kesannya macho, keren, patriotik, dan berpendidikan. Apalagi Merah Putih sendiri punya makna berani dan suci, jadi simbol yang mantab sekali buat seorang traveler. Begitu dapet nama ini, saya titahkan kepada Bryan dan Ongki untuk menyematkan merah putih di backpack mereka, sebagai ciri khas kami.
Jadi Anda yang sudah tergabung dalam grup ini saya anggap Anda sebagai Traveler Merah-Putih juga. Otomatis, Anda juga sangat dianjurkan (HARUS) menyematkan merah putih di backpack Anda. Jadi di dunia nyata, kita bisa saling kenal dengan hanya melihat merah putih itu.
"Hoi Traveler Merah-Putih juga ya?"
"Oh, kamu kan Iqbal yang ganteng itu, kan?"
Nah, seperti itulah ilustrasinya di dunia nyata. Anda tidak perlu taku merah-putih di backpack akan kelihatan norak. Saya jamin, keren dan sangat mantab. Lagipula kenapa harus malu berbangga diri dengan identitas negeri sendiri?
Sematkan Merah Putih-mu !!
NB: Merah-Putih yang disematkan bebas sesuai selera Anda, disarankan berupa bendera kecil dari kain yang dijahit.
Minggu, September 20
Piramida Ajaib (Naked Traveler)
Saya tidak bermaksud plagiat, hanya mengambil dari blog favorit saya: The Naked Traveler. Ini Posting yang ditulis Trinity, sang blogger:
Piramida Ajaib
Saya ingat pelajaran SD yang mengatakan bahwa Borobudur merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Gara-gara saya ke Piramida Agung Giza di Mesir, saya baru tahu bahwa pernyataan tentang Borobudur itu tidak benar. Adalah Herodotus, sejarawan Yunani yang hidup pada abad ke-5 Sebelum Masehi, membuat daftar Seven Wonders of the Ancient World, yaitu Piramida Agung di Giza, Taman Gantung di Balylon, Patung Zeus di Olympia, Temple of Artemis di Efesus, Mausoleum of Maussollos di Halicarnassus, Colossus of Rhodes, dan Lighthouse of Alexandria. Saat ini hanya tinggal Piramida Giza yang masih berdiri kokoh. Nah, dalam rangka memperbaharui daftar keajaiban dunia dan memperkenalkan sejarah budaya, maka pada tahun 2007 New7Wonders Foundation menyelenggarakan kontes New Seven Wonders of the World. Tujuh situs baru sudah diumumkan, yaitu Chichen Itza di Mexico, Christ the Redeemer di Brazil, Colosseum di Italia, Great Wall di Cina, Machu Picchu di Peru, Petra di Yordania dan Taj Mahal di India. Namun ada satu tambahan dalam daftar, yaitu Piramida Agung Giza sebagai satu-satunya keajaiban dunia yang tersisa. Jadi Borobudur sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar resmi kejaiban manapun! Yang benar adalah Borobudur masuk ke dalam UNESCO World Heritage List pada tahun 1982.
Sampai sekarang saya memang masih terkagum-kagum dengan Borobudur. Candi dengan 2.670 relief cantik itu dibangun pada tahun 824 saat teknologi belum canggih. Bukannya saya tidak bangga dengan Borobudur, tapi Piramida itu berdiri jauh sebelumnya yaitu pada tahun 2560 Sebelum Masehi, atau berbeda 3.384 tahun! Tinggi Piramida itu 138,8 meter (sudah berkurang 7,8 meter dari aslinya akibat erosi) atau lebih tinggi daripada Monas yang dibangun tahun 1959. Tak heran piramida agung ini memegang rekor sebagai bangunan tertinggi di dunia selama 3.800 tahun. Saya tidak menyadari betapa besarnya Piramida sampai saya berada di dekatnya. Wah, satu balok batu saja bisa setinggi bahu saya! Konon jumlah balok batu yang membentuk piramida ini lebih dari 2,3 juta buah. Kalau ditimbang, satu piramida beratnya 5,9 juta ton. Berarti satu balok batu beratnya lebih dari 2 ton! Ternyata film The Bucket List-nya Jack Nicholson itu tipuan belaka karena kita tidak mungkin bisa nongkrong di puncak piramida karena susah banget untuk naik ke puncaknya yang kerucut.
Piramida sebenarnya adalah bangunan tempat pemakaman para Firaun (gelar raja Mesir Kuno) yang berkuasa pada tahun 2630 - 1814 Sebelum Masehi. Mereka percaya bahwa setelah mati, raja akan menjadi dewa dan rohnya terbang ke angkasa. Pramida bertindak sebagai �tangga� untuk perjalanan spiritual ini, juga melambangkan sinar matahari yang menghubungkannya dengan Ra (dewa matahari). Piramida kokoh dibangun untuk melindungi jasad raja dan hartanya yang akan diberangkatakan ke kehidupan selanjutnya. Orang Mesir Kuno pun percaya bahwa pengawetan jasad (melalui cara mummifikasi) adalah penting agar rohnya abadi. Banyak yang mengira bahwa piramida di Mesir hanya tiga seperti yang terdapat di Giza, padahal totalnya yang sudah ditemukan ada 138 buah. Sebagian besar piramida terdapat di Saqqara, sebuah kompleks pemakaman di luar kota Memphis pada zaman Mesir Kuno. Namun piramida yang terbesar ada di Giza. Di antara tiga piramida di Giza, yang terbesar adalah The Great Pyramid (Piramida Agung) atau disebut dengan Pyramid of Khufu. Dua lagi di dekatnya adalah Pyramid of Menkaure dan Pyramid of Khafre yang lebih rendah dan lebih kecil.
Ketika saya memutari Piramida Agung, saya tambah terkagum-kagum. Setiap sisi pada dasar piramida ini panjangnya 230,5 meter. Pemandangan dari sisi manapun adalah segi tiga sama kaki yang benar-benar sempurna. Menurut penelitian, tingkat ketidakakuratannya hanya 58 milimeter saja. Udah gitu, di dalamnya ada ruangan tempat pembaringan mayat. Wih, bagaimana caranya mengangkut batu-batu itu ke atas dan membentuk ruangan bolong di dalamnya? Bagaimana supaya bangunannya tidak miring? Bagaimana menempatkan titik puncak piramida yang harus berada di bidang dasar tepat di titik tengah empat sudut? Bagaimana manusia pada 4500 tahun yang lalu kepikiran? Ah, pantaslah Piramida Agung Giza masuk ke dalam daftar keajaiban dunia. Saya jadi �napsu� untuk mengunjungi lima lagi dari tujuh keajaiban dunia baru, sebelum punah�
Piramida Ajaib
Saya ingat pelajaran SD yang mengatakan bahwa Borobudur merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Gara-gara saya ke Piramida Agung Giza di Mesir, saya baru tahu bahwa pernyataan tentang Borobudur itu tidak benar. Adalah Herodotus, sejarawan Yunani yang hidup pada abad ke-5 Sebelum Masehi, membuat daftar Seven Wonders of the Ancient World, yaitu Piramida Agung di Giza, Taman Gantung di Balylon, Patung Zeus di Olympia, Temple of Artemis di Efesus, Mausoleum of Maussollos di Halicarnassus, Colossus of Rhodes, dan Lighthouse of Alexandria. Saat ini hanya tinggal Piramida Giza yang masih berdiri kokoh. Nah, dalam rangka memperbaharui daftar keajaiban dunia dan memperkenalkan sejarah budaya, maka pada tahun 2007 New7Wonders Foundation menyelenggarakan kontes New Seven Wonders of the World. Tujuh situs baru sudah diumumkan, yaitu Chichen Itza di Mexico, Christ the Redeemer di Brazil, Colosseum di Italia, Great Wall di Cina, Machu Picchu di Peru, Petra di Yordania dan Taj Mahal di India. Namun ada satu tambahan dalam daftar, yaitu Piramida Agung Giza sebagai satu-satunya keajaiban dunia yang tersisa. Jadi Borobudur sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar resmi kejaiban manapun! Yang benar adalah Borobudur masuk ke dalam UNESCO World Heritage List pada tahun 1982.
Sampai sekarang saya memang masih terkagum-kagum dengan Borobudur. Candi dengan 2.670 relief cantik itu dibangun pada tahun 824 saat teknologi belum canggih. Bukannya saya tidak bangga dengan Borobudur, tapi Piramida itu berdiri jauh sebelumnya yaitu pada tahun 2560 Sebelum Masehi, atau berbeda 3.384 tahun! Tinggi Piramida itu 138,8 meter (sudah berkurang 7,8 meter dari aslinya akibat erosi) atau lebih tinggi daripada Monas yang dibangun tahun 1959. Tak heran piramida agung ini memegang rekor sebagai bangunan tertinggi di dunia selama 3.800 tahun. Saya tidak menyadari betapa besarnya Piramida sampai saya berada di dekatnya. Wah, satu balok batu saja bisa setinggi bahu saya! Konon jumlah balok batu yang membentuk piramida ini lebih dari 2,3 juta buah. Kalau ditimbang, satu piramida beratnya 5,9 juta ton. Berarti satu balok batu beratnya lebih dari 2 ton! Ternyata film The Bucket List-nya Jack Nicholson itu tipuan belaka karena kita tidak mungkin bisa nongkrong di puncak piramida karena susah banget untuk naik ke puncaknya yang kerucut.
Piramida sebenarnya adalah bangunan tempat pemakaman para Firaun (gelar raja Mesir Kuno) yang berkuasa pada tahun 2630 - 1814 Sebelum Masehi. Mereka percaya bahwa setelah mati, raja akan menjadi dewa dan rohnya terbang ke angkasa. Pramida bertindak sebagai �tangga� untuk perjalanan spiritual ini, juga melambangkan sinar matahari yang menghubungkannya dengan Ra (dewa matahari). Piramida kokoh dibangun untuk melindungi jasad raja dan hartanya yang akan diberangkatakan ke kehidupan selanjutnya. Orang Mesir Kuno pun percaya bahwa pengawetan jasad (melalui cara mummifikasi) adalah penting agar rohnya abadi. Banyak yang mengira bahwa piramida di Mesir hanya tiga seperti yang terdapat di Giza, padahal totalnya yang sudah ditemukan ada 138 buah. Sebagian besar piramida terdapat di Saqqara, sebuah kompleks pemakaman di luar kota Memphis pada zaman Mesir Kuno. Namun piramida yang terbesar ada di Giza. Di antara tiga piramida di Giza, yang terbesar adalah The Great Pyramid (Piramida Agung) atau disebut dengan Pyramid of Khufu. Dua lagi di dekatnya adalah Pyramid of Menkaure dan Pyramid of Khafre yang lebih rendah dan lebih kecil.
Ketika saya memutari Piramida Agung, saya tambah terkagum-kagum. Setiap sisi pada dasar piramida ini panjangnya 230,5 meter. Pemandangan dari sisi manapun adalah segi tiga sama kaki yang benar-benar sempurna. Menurut penelitian, tingkat ketidakakuratannya hanya 58 milimeter saja. Udah gitu, di dalamnya ada ruangan tempat pembaringan mayat. Wih, bagaimana caranya mengangkut batu-batu itu ke atas dan membentuk ruangan bolong di dalamnya? Bagaimana supaya bangunannya tidak miring? Bagaimana menempatkan titik puncak piramida yang harus berada di bidang dasar tepat di titik tengah empat sudut? Bagaimana manusia pada 4500 tahun yang lalu kepikiran? Ah, pantaslah Piramida Agung Giza masuk ke dalam daftar keajaiban dunia. Saya jadi �napsu� untuk mengunjungi lima lagi dari tujuh keajaiban dunia baru, sebelum punah�